1.000 JAMAAH HADIRI TABLIGH AKBAR KE-8 KKMT SE-RIAU DI MASJID RAYA SENAPELAN, GAUNGKAN SEMANGAT HARI SANTRI 2026

PEKANBARU — Sekitar 1.000 jamaah Majelis Taklim (MT) dan Kelompok Kerja Majelis Taklim (KKMT) se-Provinsi Riau memadati Masjid Raya Senapelan, Kota Pekanbaru, Senin (26/10/2026), dalam kegiatan Tabligh Akbar ke-8 yang digelar bertepatan dengan momentum peringatan Hari Santri 2026.

Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat dan semangat keagamaan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat dakwah Islam, mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendorong pemberdayaan ekonomi umat melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Tabligh Akbar tersebut dihadiri oleh Penyuluh Agama Islam KUA Sail, Penyuluh Agama Islam KUA Senapelan, MT Senapelan, pengurus KKMT Provinsi Riau, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai daerah di Provinsi Riau. Ustadz Syamsurizal, S.Ag., hadir sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut.

MASJID RAYA SENAPELAN, SIMBOL SEJARAH DAN IDENTITAS MELAYU RIAU

Pemilihan Masjid Raya Senapelan sebagai lokasi pelaksanaan Tabligh Akbar ke-8 bukan tanpa alasan. Masjid bersejarah tersebut memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah Kota Pekanbaru dan perkembangan budaya Melayu di Bumi Lancang Kuning.

Rahmad Alamsyah, S.H.I., LL.M., Penyuluh Agama Islam KUA Sail yang turut terlibat dalam kepanitiaan bersama Penyuluh Agama Islam KUA Senapelan dan MT Senapelan, menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah Masjid Raya Senapelan kepada masyarakat luas.

“Masjid Raya Senapelan adalah masjid yang ikonik dan bersejarah di Bumi Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau,” ujar Rahmad.

Menurutnya, masjid bukan hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat dakwah, pendidikan keagamaan, pembinaan umat, serta pelestarian nilai-nilai budaya Melayu.

Pelaksanaan Tabligh Akbar di lokasi bersejarah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk terus menjaga warisan sejarah dan memperkuat identitas keislaman serta kemelayuan di Kota Pekanbaru.

PENYULUH AGAMA APRESIASI PELAKSANAAN TABLIGH AKBAR

Ketua Penyuluh Agama Islam KUA Senapelan, Buya Aufa Syaiful Lubis, S.Ag., mengapresiasi terselenggaranya Tabligh Akbar ke-8 di Masjid Raya Senapelan.

Ia menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat luas, terutama dalam memperkuat hubungan ant jamaah Majelis Taklim, memperluas ruang dakwah, serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap masjid bersejarah.

Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti ini perlu terus dikembangkan agar Majelis Taklim semakin berperan dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlak mulia.

Selain menjadi sarana pembinaan spiritual, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keberadaan dan nilai sejarah Masjid Raya Senapelan sebagai salah satu ikon penting Kota Pekanbaru.

TABLIGH AKBAR JUGA BERI RUANG BAGI UMKM JAMAAH

Tak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan, Tabligh Akbar ke-8 KKMT se-Riau juga memberikan ruang bagi jamaah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif melalui fasilitasi UMKM.

Ketua Panitia, Desnawati, A.Ma., menjelaskan bahwa pihak panitia berupaya menjadikan kegiatan ini sebagai wadah yang memberikan manfaat lebih luas bagi para jamaah, khususnya kaum ibu yang menjalankan usaha rumahan.

“Selain sebagai sarana dakwah dan silaturahmi, kegiatan Tabligh Akbar ke-8 ini juga memfasilitasi usaha dagang UMKM dari jamaah MT dan KKMT se-Riau,” jelas Desnawati.

Kehadiran pelaku UMKM dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu memperkenalkan produk-produk usaha jamaah kepada masyarakat sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.

Langkah ini menjadi bentuk dukungan terhadap kemandirian ekonomi keluarga, mengingat banyak jamaah Majelis Taklim yang memiliki potensi usaha di bidang kuliner, makanan ringan, dan berbagai produk rumahan.

Melalui kegiatan tersebut, dakwah dan pemberdayaan ekonomi diharapkan dapat berjalan beriringan sehingga manfaat yang dirasakan jamaah tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi juga menyentuh kebutuhan ekonomi keluarga.

MUI SENAPELAN: EKONOMI UMAT BISA DIMULAI DARI USAHA KAUM IBU

Ketua MUI Senapelan sekaligus tokoh pemuda Senapelan, Buya Budiman Syaf, S.H.I., mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan syiar Islam, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat tersebut.

Menurutnya, usaha rumahan yang dikelola kaum ibu memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat.

“Dari ibu-ibu inilah ekonomi umat mulai bergerak. Walaupun pelan, tetapi menjadi benteng pertahanan yang tangguh dan sangat menentukan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa penguatan UMKM berbasis keluarga perlu mendapat perhatian bersama karena usaha kecil yang dikelola secara konsisten dapat menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat.

Karena itu, kegiatan Majelis Taklim tidak hanya diharapkan menjadi tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang untuk saling mendukung, membangun jejaring usaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

KEMENAG PEKANBARU BERHARAP KEGIATAN BERKELANJUTAN

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kota Pekanbaru, H. Zamri, S.Ag., M.H., turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap Tabligh Akbar dan kegiatan pembinaan Majelis Taklim lainnya dapat dilaksanakan secara berkesinambungan, dengan jangkauan dan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berketerusan dan berkelanjutan, semakin baik dan semakin bermanfaat ke depannya bagi jamaah MT khususnya dan umat pada umumnya,” harapnya.

Harapan tersebut sejalan dengan pentingnya keberadaan Majelis Taklim sebagai salah satu wadah pendidikan nonformal keagamaan yang berperan dalam membangun karakter, memperkuat ketahanan keluarga, serta menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan bersama seperti Tabligh Akbar, hubungan antara penyuluh agama, pengurus Majelis Taklim, tokoh masyarakat, dan jamaah diharapkan semakin erat dalam mendukung pembangunan kehidupan beragama yang harmonis.

KETUA KKMT RIAU INGATKAN BAHAYA RADIKALISME DAN PENTINGNYA PERAN KELUARGA

Ketua KKMT Provinsi Riau, H. Mas Jekki Amri, MHS, S.Sos., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, jamaah, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Tabligh Akbar ke-8 tersebut.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Ustadz Syamsurizal, S.Ag., yang telah memberikan tausiah dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mas Jekki mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikalisme yang dapat mengancam kerukunan dan kehidupan bermasyarakat.

Ia mengajak para orang tua untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anak, membangun komunikasi yang baik dalam keluarga, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Menurutnya, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda agar tumbuh dengan pemahaman agama yang baik, sikap toleran, serta kepedulian terhadap sesama.

Penguatan pendidikan agama yang moderat, pengawasan yang bijaksana, dan komunikasi dalam keluarga menjadi bagian penting dari upaya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang dapat merusak persatuan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah tidak hanya berlangsung di masjid atau majelis taklim, tetapi juga harus hadir dalam kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat.

SEMANGAT HARI SANTRI DAN SUMPAH PEMUDA, JAGA JATI DIRI MELAYU RIAU

Pelaksanaan Tabligh Akbar ke-8 ini juga menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat Hari Santri 2026 sekaligus menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Kehadiran sekitar 1.000 jamaah perempuan dari MT dan KKMT se-Riau menunjukkan besarnya partisipasi kaum ibu dalam kegiatan dakwah, pembinaan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan kehidupan sosial masyarakat.

Rahmad Alamsyah, S.H.I., LL.M., yang juga dikenal sebagai pengamat hukum, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga nilai-nilai agama, budaya, dan jati diri masyarakat Melayu Riau.

“Ini menjadi bukti dan ikhtiar bahwa jamaah ibu-ibu yang hadir sekitar 1.000 orang yang tergabung dalam MT/KKMT se-Riau sedang berjuang dan terus berjuang dengan semangat santri dan dengan semangat Sumpah Pemuda agar Kota Pekanbaru, Riau, tetap menjunjung tinggi budaya Melayu, beradab, sopan santun, ‘Me-Melayukan Bumi Melayu Lancang Kuning’. Karena di Senapelan inilah semua dimulai,” ujar Rahmad.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan, pelestarian budaya, dan pembangunan karakter masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Semangat Hari Santri diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus memperkuat kecintaan terhadap ilmu agama, menjaga persatuan, serta menanamkan nilai kesantunan dan kepedulian sosial kepada generasi penerus.

Sementara itu, semangat Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa persatuan dan tanggung jawab bersama merupakan modal penting dalam membangun daerah tanpa meninggalkan akar budaya dan identitas lokal.

BUKAN SEKADAR SEREMONIAL, TETAPI GERAKAN PEMBERDAYAAN UMAT

Tabligh Akbar ke-8 KKMT se-Riau di Masjid Raya Senapelan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi titik penguatan gerakan dakwah, ukhuwah Islamiyah, kepedulian sosial, pemberdayaan UMKM, ketahanan keluarga, serta pelestarian budaya Melayu.

Sinergi antara penyuluh agama, pengurus Majelis Taklim, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, dan jamaah menjadi modal penting untuk menghadirkan kegiatan keagamaan yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Dari Masjid Raya Senapelan, semangat dakwah, santri, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat terus digaungkan demi mewujudkan masyarakat Riau yang religius, berbudaya, mandiri, dan beradab.

Tabligh Akbar ke-8 ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada semangat beribadah, tetapi juga pada kemampuan menjaga persatuan, membangun keluarga yang kuat, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.

(Dewan Redaksi PII)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *