Medan .Sumatra Utara— Nama Olo Panggabean tak bisa dilepaskan dari sejarah kelam dan kompleks perjalanan sosial-politik Kota Medan, khususnya pada masa Reformasi 1998. Ia dikenal luas sebagai preman terbesar dan paling ditakuti di Indonesia pada masanya, sosok yang pengaruhnya melampaui batas jalanan dan masuk ke ruang-ruang strategis kekuasaan lokal.
Namun di balik reputasinya yang keras, Olo Panggabean justru mencatatkan peran yang berbeda dan kontroversial saat gelombang Reformasi melanda Indonesia. Ketika kerusuhan anti-Tionghoa pecah di berbagai daerah, Medan menjadi salah satu kota yang relatif lebih terkendali, terutama di kawasan Sekip, wilayah yang mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa.
Saksi mata dan berbagai catatan menyebutkan, Olo Panggabean secara langsung memerintahkan ribuan anggota Ikatan Pemuda Karya (IPK)—organisasi kepemudaan yang dipimpinnya—untuk menutup dan mengamankan kawasan Sekip.
“Pagar semua itu, jangan kasih masuk. Yang lewat matikan,” demikian perintah keras yang disebut-sebut keluar dari mulut Olo saat ribuan massa berusaha memasuki kawasan tersebut.
Instruksi tersebut, meski bernada ekstrem, nyatanya menjadi faktor penentu yang membuat Sekip luput dari penjarahan dan kekerasan massal seperti yang terjadi di daerah lain. Ribuan anggota IPK berjaga di pintu-pintu masuk kawasan, membentuk barikade manusia dan menolak massa luar yang mencoba masuk.
Pertanyaannya kemudian muncul: apa yang membuat Olo Panggabean melakukan hal tersebut?
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa hubungan Olo dengan komunitas Tionghoa di Medan, khususnya di Sekip, telah terjalin lama. Relasi itu dibangun atas dasar saling membutuhkan dalam konteks keamanan, ekonomi, dan stabilitas wilayah. Dalam dunia jalanan Medan kala itu, Olo dikenal sebagai sosok yang memegang teguh “wilayah tanggung jawab”, dan Sekip merupakan salah satu kawasan yang berada dalam pengaruhnya.
Bagi warga Tionghoa Sekip, kehadiran IPK saat Reformasi menjadi tameng yang menyelamatkan mereka dari amuk massa. Tidak sedikit yang mengakui bahwa tanpa perlindungan tersebut, Sekip bisa bernasib sama seperti kawasan lain yang luluh lantak akibat kerusuhan.
Peristiwa ini memperlihatkan sisi lain dari Olo Panggabean—seorang tokoh yang lahir dari kerasnya jalanan, namun mampu memainkan peran strategis dalam situasi genting. Hingga kini, namanya masih dikenang sebagai figur kontroversial, ditakuti sekaligus diingat karena pengaruh besarnya dalam menjaga “keseimbangan” Medan di masa paling kacau dalam sejarah Indonesia modern.
Meski Olo Panggabean telah lama tiada, kisah dan perannya pada Reformasi 1998 tetap menjadi bagian penting dari mozaik sejarah Kota Medan—sebuah cerita tentang kekuasaan jalanan, loyalitas wilayah, dan paradoks seorang preman yang justru mencegah tragedi kemanusiaan.
(Redaksi)
