Bukan Sekadar Menyeruput Kopi, Muhtarom Bedah Persoalan Toleransi hingga Fenomena Sosial Pekanbaru

PEKANBARU — Secangkir kopi bisa menjadi awal percakapan panjang tentang masa depan masyarakat. Itulah semangat yang mewarnai kegiatan Ngopi Bareng dengan Penyuluh Agama bersama anggota DPRD Provinsi Riau dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H. Muhtarom, S.Ag., M.M. Di balik suasana santai dan keakraban, pertemuan ini menjadi ruang untuk membicarakan persoalan serius yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat Kota Pekanbaru.

 

Bukan rapat formal dengan tumpukan dokumen dan bahasa birokrasi, forum tersebut menghadirkan pendekatan berbeda dalam menyerap aspirasi. Penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan akademisi duduk bersama membicarakan berbagai persoalan, mulai dari kerukunan umat beragama, toleransi di tengah keberagaman, penguatan moderasi beragama, hingga tantangan sosial masyarakat perkotaan.

 

Bagi Muhtarom, mendengar langsung pengalaman orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat merupakan bagian penting untuk memahami persoalan dari dekat.

 

“Penyuluh agama merupakan salah satu ujung tombak dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Karena itu, masukan dari penyuluh sangat penting bagi kami di DPRD sebagai bahan untuk melihat persoalan masyarakat secara lebih dekat, baik dalam pengambilan kebijakan maupun pelaksanaan fungsi pengawasan,” ujar Muhtarom.

 

Dari Secangkir Kopi, Muncul Pertanyaan Besar tentang Toleransi

 

Pekanbaru bukan hanya kota yang terus tumbuh secara ekonomi dan demografi. Kota ini juga menjadi ruang perjumpaan berbagai agama, etnis, tradisi, dan kebudayaan. Masyarakat Melayu, Minangkabau, Batak, Jawa, Tionghoa, serta kelompok lainnya hidup dalam lingkungan sosial yang terus berkembang.

 

Keberagaman tersebut menjadi kekayaan sekaligus tantangan. Kehidupan yang harmonis membutuhkan lebih dari sekadar sikap tidak saling mengganggu. Diperlukan komunikasi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan menyelesaikan kesalahpahaman secara dewasa.

 

Dalam dialog tersebut, persoalan kerukunan umat beragama menjadi salah satu perhatian. Kehidupan masyarakat yang heterogen perlu dipahami secara objektif, termasuk dengan melihat bagaimana hubungan antarwarga terbangun, potensi gesekan sosial yang perlu diantisipasi, serta pentingnya menjaga kebebasan beragama.

 

Pesan yang mengemuka cukup jelas: perbedaan tidak semestinya menjadi tembok pemisah, melainkan kenyataan sosial yang harus dikelola melalui sikap saling menghormati.

 

Moderasi Beragama Tak Cukup Berhenti di Mimbar

 

Pembicaraan kemudian mengarah pada pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.

 

Moderasi beragama bukan semata-mata istilah yang terdengar baik dalam forum diskusi atau kegiatan keagamaan. Nilainya perlu terlihat dalam perilaku, cara berkomunikasi, kemampuan menghargai perbedaan, dan kesediaan membangun hubungan baik dengan orang lain.

 

Penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga berhadapan langsung dengan dinamika keluarga, lingkungan masyarakat, serta persoalan sosial yang membutuhkan pendekatan persuasif.

 

Dialog lintas agama dan komunikasi antarelemen masyarakat juga dipandang penting untuk mengurangi prasangka. Semakin terbuka ruang perjumpaan, semakin besar kesempatan masyarakat untuk mengenal satu sama lain tanpa terjebak pada stereotip.

 

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam pertemuan itu ialah bahwa kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan. Kerukunan harus dibangun melalui perjumpaan, komunikasi, dan kepercayaan.

 

Ketika Kota Berkembang, Persoalan Sosial Ikut Berubah

 

Pertumbuhan perkotaan membawa konsekuensi yang tidak selalu terlihat dari pembangunan fisik. Di balik bertambahnya aktivitas ekonomi dan mobilitas penduduk, terdapat perubahan pola interaksi, kebiasaan, dan hubungan sosial masyarakat.

 

Perbedaan adat, budaya, serta cara pandang dapat memunculkan proses penyesuaian. Jika tidak disertai komunikasi yang baik, perbedaan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

 

Forum tersebut juga menyoroti persoalan keluarga, pergaulan generasi muda, perubahan sosial, dan fenomena konversi agama. Berbagai persoalan itu membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek pendidikan, keluarga, psikologis, lingkungan sosial, dan kehidupan keagamaan.

 

Artinya, penyelesaian masalah masyarakat tidak selalu cukup dengan satu pendekatan. Diperlukan kerja sama berbagai pihak agar persoalan dapat dipahami secara utuh dan ditangani dengan bijaksana.

 

Di sinilah peran penyuluh agama menjadi relevan, terutama dalam membangun kepedulian sosial, memperkuat ketahanan keluarga, menanamkan nilai persaudaraan, dan mendorong penyelesaian persoalan melalui dialog.

 

Penyuluh Agama, Mitra Penting dalam Membaca Suara Masyarakat

 

Bagi Muhtarom, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda silaturahmi. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperoleh gambaran mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat dari orang-orang yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka.

 

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD memiliki fungsi pembentukan peraturan daerah, anggaran, dan pengawasan. Masukan masyarakat dapat menjadi salah satu bahan penting dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut sesuai kewenangannya.

 

“DPRD membutuhkan informasi dan masukan dari masyarakat. Penyuluh agama berada sangat dekat dengan masyarakat, sehingga pengalaman dan temuan di lapangan dapat menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami,” kata Muhtarom.

 

Melalui dialog informal, persoalan yang terkadang sulit terungkap dalam forum resmi diharapkan dapat dibicarakan secara lebih terbuka. Pengalaman lapangan para penyuluh juga dapat memperkaya pemahaman mengenai kebutuhan masyarakat yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

 

Meski demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa berbagai masukan tersebut dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku.

 

Dari Senapelan hingga Sail, Berbagai Perspektif Bertemu

 

Kegiatan Ngopi Bareng DPRD Provinsi Riau tersebut dihadiri sejumlah penyuluh agama, tokoh agama, akademisi, dan tokoh masyarakat.

 

Mereka yang hadir antara lain Ketua Penyuluh Agama Islam KUA Senapelan, Ustadz Syaiful Aufa Lubis, S.Ag.; Ketua MUI Senapelan sekaligus Penyuluh Agama Islam Senapelan dan pemuka masyarakat Senapelan, Buya Budiman Syaf, S.H.I.; akademisi pemerhati hukum, agama, dan sosial, Adv. Rahmad Alamsyah, S.H., LL.M., yang juga Penyuluh Agama Islam KUA Sail; serta Atuk Muhammad Riza bin Saukat Ali Sulaiman dari keluarga besar pendiri Masjid Raya Senapelan.

 

Kehadiran peserta dari latar belakang berbeda memperkaya sudut pandang dalam membahas persoalan sosial dan keagamaan. Pengalaman penyuluh agama, pemahaman akademisi, serta pengetahuan tokoh masyarakat menjadi unsur penting dalam membaca dinamika kehidupan warga.

 

Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa membangun kerukunan bukan hanya tanggung jawab satu institusi. Pemerintah, wakil rakyat, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat memiliki ruang kontribusi masing-masing.

 

Kopi Boleh Habis, Aspirasi Jangan Berhenti

 

Pada akhirnya, nilai penting dari kegiatan ini bukan terletak pada kopi yang disajikan atau suasana santai yang tercipta, melainkan pada kesempatan untuk saling mendengar dan memahami persoalan masyarakat secara lebih dekat.

 

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin kompleks, dialog sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu-isu besar. Namun, dialog juga perlu diikuti langkah nyata agar gagasan yang muncul tidak berhenti sebagai percakapan sesaat.

 

Sinergi antara DPRD, penyuluh agama, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya mewujudkan Pekanbaru sebagai kota yang rukun, inklusif, toleran, dan bermartabat.

 

Sebab, membangun masyarakat yang harmonis tidak selalu harus dimulai dari forum besar. Terkadang, langkah awalnya justru hadir dari pertemuan sederhana: duduk bersama, membuka percakapan, mendengarkan perbedaan, dan mencari jalan keluar.

 

Kopi mungkin hanya menjadi teman diskusi. Namun, jika aspirasi ditindaklanjuti dan komunikasi terus dirawat, secangkir kopi bisa menjadi awal dari ikhtiar yang lebih besar untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *