Mengenang Jasa-Jasa Jenderal Besar Haji Mohammad Soeharto

“Hari ini, kita tegakkan martabat sejarah bagi seorang putra terbaik bangsa yang melintasi tiga zaman.”
Dari Barisan PETA, Menjadi Penjaga Marwah Republik
Sebelum namanya tercatat di puncak kekuasaan negara, Jenderal Besar Haji Mohammad Soeharto adalah seorang prajurit sejati, yang ditempa dari kawah candradimuka perjuangan militer Indonesia. Ia memulai langkah perjuangannya dari PETA (Pembela Tanah Air) — wadah yang menumbuhkan disiplin, patriotisme, dan cinta tanah air yang tak tergoyahkan.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Soeharto langsung menjawab panggilan Ibu Pertiwi. Ia bergabung dalam barisan BKR, TKR, hingga TNI, menjadi garda terdepan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya penjajahan Belanda.
Dalam sejarah perjuangan Gerilya bersama Jenderal Besar Soedirman, Soeharto ikut menorehkan kisah keberanian luar biasa — menembus hutan, lembah, dan dinginnya malam tanpa menyerah. Ia membuktikan bahwa semangat Republik tidak pernah padam, bahkan dalam keterbatasan dan kepungan musuh.
Puncak pengabdiannya sebagai prajurit sejati terlihat pada Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Sebagai Letnan Kolonel, Soeharto berdiri di garis depan menjaga kehormatan Republik yang nyaris runtuh. Serangan itu menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia masih ada dan akan selalu ada.
Panglima Penyelamat Republik di Titik Nol Kegentingan
Di masa genting nasional, Soeharto tampil sebagai Pangkostrad — panglima yang berdiri di garis api antara kehancuran dan keselamatan bangsa. Ia menjadi palang pintu terakhir melawan arus pengkhianatan terhadap negara, memastikan ideologi Pancasila tetap tegak di atas bumi pertiwi.
Sejarah mencatatnya dengan tinta emas.Dalam tragedi 30 September 1965, saat bangsa berada di ujung jurang perpecahan, Soeharto bertindak cepat dan tegas.
Dengan keberanian dan kecermatan, ia menyelamatkan Republik dari ancaman komunisme dan mengembalikan stabilitas nasional.
Tindakannya bukan hanya menyelamatkan pemerintahan, tetapi menyelamatkan arah sejarah Indonesia.
Atas kesetiaannya kepada Pancasila dan perannya yang monumental dalam menjaga kedaulatan NKRI, maka pantas kiranya bangsa ini memberikan penghormatan tertinggi:
Gelar “Pahlawan Nasional” bagi Jenderal Besar H. M. Soeharto.
Sang Arsitek Stabilitas dan Fondasi Kemakmuran
Tak hanya di medan perang, Soeharto juga dikenal sebagai arsitek pembangunan bangsa.
Ia menata ulang arah kebijakan ekonomi, menanamkan pondasi kokoh melalui Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), serta membangun struktur ekonomi dari desa hingga kota.
Di bawah kepemimpinannya, stabilitas politik dan keamanan menjadi modal utama bagi pertumbuhan ekonomi dan swasembada pangan yang membanggakan bangsa.
Ia menjahit kembali tenunan persatuan di tengah kebhinnekaan, menjadikan Indonesia berdiri tegak di antara negara-negara berkembang.
Namun, pada puncak badai reformasi, Soeharto menunjukkan kenegarawanan sejati.
Ia memilih mengakhiri kekuasaan dengan damai — bukan karena kalah, tetapi karena lebih mencintai keutuhan bangsa daripada kekuasaan pribadi.
Keputusan itu menandai bab terakhir seorang prajurit sejati yang setia kepada tanah air sampai akhir hayat.
Penutup: Pahlawan Sejati Sepanjang Masa, Gelar Pahlawan Nasional bagi Jenderal Besar H. M. Soeharto bukan hanya penghormatan simbolik, melainkan pengakuan atas sumbangsih mendalam terhadap pendirian, pertahanan, dan pembangunan bangsa.
Ia bukan hanya pemimpin masa lalu, melainkan figur sejarah yang membentuk wajah Indonesia modern.
“Kesetiaannya kepada bangsa, keberaniannya dalam perjuangan, dan kebijaksanaannya dalam memimpin adalah warisan abadi yang tak ternilai.”
Semoga Almarhum Jenderal Besar H. Mohammad Soeharto berbahagia di sisi Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
